Budaya Mahar "Uang Panai" Gadis Suku Bugis Makassar

Budaya Mahar Gadis Suku Bugis Makassar, Ku buka pintu disaat fajar manjelma. Kicauan merdu burung yang hinggap di ranting pohon halaman rumahku. Melantunkan nada-nada hingga terangkai menjadi sebuah alunan musik yang begitu elok terdengar diteliga. Embun pagi yang menyapa dedaunan kini akan pergi bersama cahaya mentari. Meninggalkan aroma sejuk di pagi hari. Cahaya mentari begitu ramah menyapa hingga rela menembus rimbunan dedaun pohon dihadapan rumahku.

“Pagi yang cerah untuk jiwa yang tenang”. Kataku pada diri sendiri. Ditengah-tengah menikmati ketenangan pagi terdengar suara pintu dari kamar indo1. Indo yang berusia 80-an kini tak sekuat dulu. Tubuh yang termakan usia membuatnya kriput serta tulang yang kurang mampu menopang semangatnya. Namun, semangatnya selalu seperti diriku. Perlahan-lahan ia menghampiriku.

Duduk di dikursi bambu tempat favorit indo. Katanya kursi bambu itu dibuat oleh ambo2 jadi setiap duduk dikursi itu indo selalu mengingat almarhum ambo. Ada satu hal yang membuatku salut terhadap pasangan tua ini. Mereka selalu setia hingga ajal menjemput ambo. Semarah apapun indo kepada ambo atau sebaliknya tak pernah satu kalipun terdengar kata pisah antara mereka.


Uang Panai


Beda halnya dengan sekarang begitu mudahnya orang mengatakan cerai. Bahkan di media diacara realitishow selalu saja terdengar kata cerai dari para artis-artis tanah air. Seakan-akan ini telah menjadi budaya.
Pandangan indo tertuju padaku seolah-olah dia paham dengan apa yang kupikirkan pada saat itu.
“apa yang sedang kamu pikirkan nak?”
“tidak nek, sebenarnya aku mau bertanya”
“bertanya apa nak?”
“mengapa maha gadis Bugis-Makassar sangat mahal?
“emangnya kenapa nak kamu bertanya demikian atau kamu udah mau menikah?” ia melirik padaku sambil tersenyum dan hal ini membuatku malu didepannya tapi mitos mahar gadis bugis-makassar begitu tersebar luas hingga beberapa waktu lalu salah satu teman dari jawa menanyakan “mengapa mahar gadis bugis-makassar begitu mahal?” aku hanya bisa menjawab “mungkin itu salah satu budaya siri’3, dimana setiap keluarga yang memiliki anak gadis akan merasa malu ketika anaknya diberikan mahar murah”. Namun itu hanya pendapat pribadiku dan aku sendiri masih kabur dengan budaya tersebut. Hal ini pun menjadi perbincanganku bersama indo. Indo yang pada saat itu sedang mangico4 kembali bertanya padaku
“kenapa kamu menanyakan mahar gadis Bugis-Makassar?”
“Aku cuman ingin tahu nek, karena banyak orang yang menanyakan mengapa mahar gadis bugis-makassar begitu mahal? ada juga orang yang beranggapan bahwa mahar gadis Bugis-Makassar itu seperti barang yang diperjualbelikan” indo tersenyum mendengar penjelasanku.
“emm betul juga budaya ini akan menjadi ambigu bagi orang yang tidak paham. kalau dilihat sekilas emang sama dengan barang yang diperjualbelikan. tapi sebenarnya bukan itu maksudnya”. sambil membakar ico5
“jadi maksudnya apa nek?” aku semakin penasaran
“ya sebenarnya dahulu itu pada zaman penjajahan gadis-gadis Bugis-Makassar sangat terhina oleh para tentara belanda.” menghisap ico ditangannya.
“terhina bagaimana indo” ku memotong penjelasan indo.
“aduh izinkan nenek bicara dulu dan jangan dipotong karena nenek bisa lupa apa yang nenek ingin katakan” indo menegurku karena aku terlalu semangat.
“iya nek maaf, aku tidak ada maksud”
“masih ingin dengar cerita nenek?”
“iya nek” ku anggukkan kepalaku bertanda setuju.
“udah sampai dimana cerita kita? aduh aku lupa kamunya sih ngajak nenek bicara, jadi kepotong ceritanya” Menepuk pahanya itu salah satu kebiasaan indo ketika melupakan sesuatu. Maklumlah sudah berumur.
“nek tadi ceritanya sampai di gadis Bugis-Makasssar pada zaman penjajahan”
“oh iya pada zaman dahulu itu gadis bugis sangat dihina dan para gadis ini tidak memiliki hak apapun terhadap dirinya sendiri. jadi setiap gadis pada saat itu harus merelakan dirinya untuk dinikahi oleh tentara belanda tanpa mahar sedikit pun. yang jadi masalah disini yaitu ketika telah dinikahi dan tentara itu melihat ada yang lebih baik dari istrinya maka ia akan beralih kewanita lain tanpa menghiraukan istri pertamanya. disinilah letak ketidak adilan.”
“jadi bagaimana kondisi gadis pada zaman itu nek?”
“nah pada saat itu kewenangan semua ada di tangan tentara belanda, sangat menyedihkan karena orang tua gadis-gadis pada saat itu hanya bisa melihat anaknya diperlakukan semena-mena mereka tidak bisa membela hak anaknya. jadi si gadis ini hanya pasrah dengan keadaan.”
“kasihan, jadi kapan mahar gadis Bugis-Makassar menjadi sesuatu yang mahal?”
“nah pada saat menjelang kemerdekaan tentara belanda meninggalkan kampung Bugis-Makassar karena berhasil diusir oleh para pemberontak. tapi kepergian belanda bukan berarti menghilangkan semua jejaknya masih ada ajaran-ajaran atau doktrin yang mereka tanamkan yaitu salah satunya tentang kebebasan untuk menikahi siapa saja dan berhak meninggalkan begitu saja. paham inilah yang masih dianut para lelaki di kampung Bugis-Makassar.
“apa maksudnya nek dengan ajaran tersebut?”.
“jadi doktrin belanda yang ditanamkan pada jiwa pemuda pada saat itu yakni seorang lelaki bisa berganti-ganti wanita sesuai keinginannya”.
“emm jadi setelah belanda meninggalkan kampung Bugis-Makassar, para gadis tetap saja masih belum memiliki kebebasan?”
“iya nak, nah dari permasalahan inilah ada seorang bangsawan memiliki seorang anak gadis yang begitu iya sayangi dan ia tidak ingin melihat anak gadisnya diperlakukan semena-mena oleh para pemuda yang jiwanya telah terdotrin oleh belanda. suatu ketika ada seorang pemuda yang terpikat melihat gadis bangsawan ini, ia pun memberanikan diri untuk melamar dengan menggunakan doktrin belanda yaitu tidak menggunakan mahar.

Namun orang tua si gadis bangsawaan ini tidak menerimanya karena hal yang ia lakukan merupakan sebuah pelecehan terhadap perempuan. Tidak ada sedikit pun bukti fisik keseriusan sang pemuda itu untuk menikahi sang gadis bangsawan. Jadi pada saat itu orangtua si gadis ini mengisyaratkan kepada sang pemuda kalau ia ingin menikahi anak gadisnya dia harus menyediakan mahar yang telah ditentukannya. mahar yang diajukan sangatlah berat sang pemuda harus menyediakan material maupun non material. hal ini dilakukannya untuk menganggat derajat kaum wanita pada saat itu.

Pergilah sang pemuda itu mencari persyaratan yang diajukan oleh orangtua si gadis. Bertahun-tahun merantau mencari mahar demi pujaan hatinya ia rela melakukan apa saja asalkan apa yang dilakukannya dapat menghasilkan tabungan untuk meminang gadis pujaannya. setelah mencukupi persyaratan yang diajukan oleh orang tua si gadis sang pemuda pun kembali meminang gadis pujaannya dan pada saat itu melihat kesungguhan hati sang pemuda orangtua si gadis merelakan anaknya menjadi milik sang pemuda tersebut”.
“Nek apakah sang pemuda itu tidak merasa bahwa hasil kerja kerasnya hanya dihabiskan untuk menikah ataukah tidak ada kata menyesal pada dirinya?”.
“Tidak nak, dalam hati sang pemuda itu tidak pernah mengatakan menyesal bahkan iya sangat berterima kasih pada orangtua si gadis. Adanya persyaratan yang diajukan memeberikannya sebuah pelajaran yakni menghargai wanita karena wanita memang sangat mahal untuk disakiti. apalagi sang pemuda itu mendapatkan istrinya dari hasil jeri payahnya sendiri itulah sebabnya ia begitu menyanyangi istrinya”.
“Oh jadi mahalnya mahar gadis Bugis-Makassar bukan seperti barang yang diperjual belikan, tapi sebagai bentuk penghargaan kepada sang wanita, jadi ketika tersirat dihati ingin bercerai dan menikah lagi maka sang pemuda akan berpikir berkali-kali untuk melakukannya karena begitu sulitnya ia mendapatkan si gadis ini”. itu pernyataanku kepada indo. ia pun beranjak bangun dari kursi bambu berjalan keluar setiba dipintu ia membalikkan wajahnya kepadaku
“Gimana, kamu sudah paham akan budaya mahar gadis Bugis-Makassar? jadi kamu tidak perlu lagi khawatir akan mahar, jika ada pemuda yang ingin meminangmu persilahkan saja datang kerumah dan katakan padanya jangan takut dengan budaya mahar orang Bugis-Makassar karena ia akan mendapatkan hal yang setimpal dengan apa yang ia keluarkan

Berbalik dan membuka pintu. Dari pembicaran tadi ada hal yang menurutku sebuah pelajaran hidup dimana budaya mahar gadis Bugis-Makassar yang mahal ternyata memiliki makna. Bukan berarti bahwa gadis Bugis-Makassar dijadikan sebuah barang yang diperjual belikan dengan uang.

Tapi, dengan adanya mahar yang besar akan membuat si calon suami betul-betul memikirkan sematang-matang mungkin untuk menikah dan ketika telah menikah tak ada kata pisah atau cerai karena meminang gadis bugis-makassar butuh pengorbanan yang banyak. Akan sangat merasa rugi ketika akan dilepas begitu saja.

Percakapan pagi itu sangat bermakna bagiku sejarah budaya mahar gadis Bugis-Makassar menjadi sebuah alat untuk mempertahankan derajat kaum hawa dalam dunia percintaan. Walaupun banyak pemaham luar yang mengatakan gadis Bugis-Makassar nantinya banyak yang akan menjadi perawan tua jika budaya itu tetap diberlakukan. Namun, ketika makna dari budaya ini dipahami aku yakin budaya cerai-nikah yang sekarang menjamur akan terkikis.
Catatan kaki
  • Indo merupakan sebutan nenek dalam bahasa Bugis-Makassar.
  • Ambo merupakan sebutan kakek dalam bahasa Bugis-Makassar.
  • Siri merupakan sebuah budaya malu Bugis-Makassar, selalu ingin yang terbaik dari yang lain.
  • Mangico merupakan kegiatan menghisap tembakau kretek yang di buat khusus secara tradisional, mangico biasanya dilakukan oleh orang tua yanglanjut usia baik perempuan maupun laki-laki.
  • Rokok tembakau tradisional
Sumber : wwwsriratnasari

Yuk simak lagu Balo Lipa

Suka dengan artikel di atas? nggak ada salahnya untuk berlangganan artikel terbaru dari blog ini langsung via email:

90 Responses to "Budaya Mahar "Uang Panai" Gadis Suku Bugis Makassar"

  1. Balasan
    1. masih layakkkah sekarang budaya ini dipertahankan mengingat konteksnya sudah beda?

      Hapus
    2. Sebenarnya tidak apa-apa mensyaratkan mahar dengan nilai yang besar. Tapi yang utama, mahar adalah mutlak hak milik isteri dan harus ada manfaat untuk kebaikan. Apabila uang itu digunakan untuk selain kebaikan, misalnya menggelar acara2 yang tidak sesuai dengan agama maka itu sudah keluar dari asas manfaat dan bisa menjadi sia-sia.
      Jika sejarah uang panai seperti itu maka itu selaras dengan konsep mahar dalam islam. Tapi didalam islam juga disebutkan bahwa untuk lebih berkahnya pernikahan agar mahar tidak terlalu memberatkan suami dan tidak menunda2 pernikahan hanya karena uang. Syarat utama wanita dinikahi adalah dia muslimah.

      Hapus
  2. Baruka.. paham... ternyata begini jalan ceritanya.... sy sebagai orang makassar setuju jika uang panai gadis bugis makassar itu mahal... Salam Kolaka Timur, Kendari.

    BalasHapus
    Balasan
    1. maaf ya justru bugis sengkang yg paling mahal Doi Mnrena ( Uang Panai ) dibandingkan Bugis makassar.

      Hapus
  3. Sy jd mempertanyakan keakuratan cerita ini..karena tidak ada sumber jelas dari siapa cerita ini berasal..catatan kaki harusnya berguna untuk validasi argumen..terlebih ini berasal dari tradisi lisan maka posisi narasumber itu penting..
    Dan juga, penulis hendak mengangkat nilai tradisi bugis-makassar tapi dengan konteks bahasa yang jauh sehingga susah diterima seorang indo berbicara dengan logat jakarta tapi yang dibahas adalah nilai bugis-makassar..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau di berbicara pakai bugis makassar pasti susah di mengerti. Makanya penulis pake logat jakarta supaya bahasanya dapat di pahami oleh pembaca.

      Hapus
  4. Kalau alasannya karena takut bercerai, kan bisa dibikinkan perjanjian pranikah.
    Karena kesungguhan hati tak selamanya diukur dengan hasil/harta.
    Tapi proses. Atau mengganti uang panai dengan kefasehan mengaji/agama demikian lebih bijak.
    Salam

    BalasHapus
  5. Tabe', sekadar pertimbangan. Itu jika ditinjau dari satu sisi atau satu masa saja. Sebagai bahan referensi, ada Manusia Bugisnya Christian Pelras pada bagian kedua. Atau jika ingin membincang fiksi sejarah seperti ini, alangkah baiknya dipadukan dgn ringkasan I La Galigo dr RA Kern pd bab XX tentang Perkawinan I La Galigo dengan We Tenrigangka. Bukan hanya dr cerita2 Belanda. Jikapun artikel tersebut di atas benar, berarti uang panai' bukan berasal dr budaya Bugis Makassar, tp dr kebiasaan org Belanda.

    Berikut sy jelaskan mengapa uang panai' bisa sangat berbeda dr arti sesungguhnya. https://afdhalkusumanegara.wordpress.com/2014/12/14/uang-panai-sebuah-proyek-2

    Sekali lagi, tabe'.

    BalasHapus
  6. Kalo kesungguhan hati di ukur berdasarkan nilai uang mahar, maka semakin kaya seorang laki-laki maka semakin tinggi tingkat kesungguhan hatinya, padahal mudah saja bagi dia memberikan mahar yang banyak, tidak perlu bekerja keras

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju... brarti yg kaya makin kaya.. yg miskin makin miskin.. karna makin tinggi gelar n kaya gadisx, pasti makin tinggi jg uang panai'nya.. dan hanya orang kaya pula yg dapat meminangx.. sengsaralah orang kecil..

      Hapus
  7. Sebenarnya ... pembebanan mahar ... juga mengajarkan lelaki untuk bisa mandiri sebelum menikah ... jangan sampai hanya bisa nikah tidak bisa mandiri ... !!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar sekali mas bro, entalah apakah ini suatu kelebihan atau kekurangan yang saya saksikan di lapangan, kebayakan orang2 bugis makassar yg sudah menikah eh masih saja menete sama orang tua, makannya saja masih numpang di rumah orangtua, terlebih lagi jika mereka sudah mempunyai anak malah orang tuanya yang dikasi jadi pembantu disuruh jaga cucu dirumah.. #Eaaaaa...

      Hapus
    2. Bagaimana kalau uang maharnya ternyata orang tuanya yang sediakan. Atau org tuanya yg punjamkan di bank. Dan kebanyakan memang gtu, mahar itu uang org tua. Apakah itu mandiri.
      Bukankah Rosulullah katakan bahwa sebaik2nya perempuan adalah yang maharnya paling sedikit.

      Hapus
    3. Bener juga sih. This is truly make sense. Mandiri sebelum dan sesudah nikah supaya para lelaki juga bisa menghidupi istri dan anaknya kelak dgn layak. Bukan hanya modal "saya cinta sama anak bapak, saya ingin meminangnya". Kan sama sekali tidak lucu kalau si calon mertua alisan orang tua sang perempuan berkata, "kamu punya apa? Kerja apa?" Belum lagi kalau yang sampai makan-ati-banget-yang-sakitnya-itu-disini "Mau ngasih makan anak saya cinta? Iya?" Hahaha no offense. Just saying. And actually dikit curhat lol.

      Hapus
    4. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
  8. Tingkat perceraian mmg jauh lebih rendah jika ada budaya mahar, sy juga bersuamikan suku jawa,walau ditentang seluruh keluarganya,dia ttp bekerja keras untuk bsa memenuhi syarat mahar yg ditentukan, kalau ada niat laki-laki tdk berpikir itu mahal,sesulit dan setinggi berapapun maharnya,yg jelas ad usaha,pasti bisa....Memang hanya laki-laki yg bermental kuat yg bsa menikahi gadis Sulawesi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mana faktanya, emang ada kajian ilmiahnya? Masih banyak kok orang bugis yg selingkuh, kawin-cerai dan tidak pernah mandiri ato hidup dari harta ortunya

      Hapus
    2. suku lain juga lebih banyak bengitu berselingku / kawin cerai dan tergantung sama orang tuanya justru suku kamu itu kebanyakan penakut nggak berani keluar daerah buktinya kmu nggak berani tampilkan fhoto atau identitas kamu.

      Hapus
  9. Blm ada fakta yg membuktikan tingginya uang pana'i berbanding lurus dgn rendahnya tingkat perceraian ..

    BalasHapus
  10. Terima kasih atas tulisan dr penulis, alangkah baiknya di artikel ini memberikan keakuratan mengenai sumber" yg di kutip oleh penulis,,,

    BalasHapus
  11. Keren banget Indo mu leh, bahasa nya geol gituu coyy..

    BalasHapus
  12. Keren banget si Indo, bahasa nya gaul..

    BalasHapus
  13. uang panaik, tradisi turun temurun.

    BalasHapus
  14. Kalau ini kebiasaan orng belanda, perlu di telusuri apa iya orang belanda melakukan ini?

    Kalau seperti ini, saya hanya berfikir ini cerita antar nenek dan cucuk dengan versi sendiri

    BalasHapus
  15. cerit ini belum pasti benar dan blm tentu semunya benar
    klw cmn mahar tnggi sy krng setuju
    kalau memang si pria bnyk uang dan kaya raya mahar berapa pun dia bs bayar tp kalau ujung2 nya istri nya mw di ceraikan ya gk masalah sm dia apa dan hrta nya tetap akan bnyk krna memang sdh kaya raya

    shr nya pola pemikiran itu di ubah skrng ini bkn jaman nya belanda lg
    dan pemuda2 indonesia yg sdh di kotori pikiran nya oleh belanda pun sdh pd tdk ada di dunia ini
    apa lg perkembangan zaman sdh berubah dan psti akan terkikis heran malah yg mahar tnggi mlh di pertahan kan :3

    uang bkn segala nya , bnyk uang yg bs byr nahar blm brrti si istri bahagia dan tdk bercerai
    semua tergntung individu nya

    apa lg jaman skrng kdng2 sbgin onrg uang mahar sdh lari dr arti sbnr ny !

    BalasHapus
  16. Budaya ini bukan Siri tpi lbh kepala gengsi,pihak prempuan mnjdikannya ini sebagai ajang untuk pamper diri karna mahalnya mahar yg diberikan.bnyk nya mahar jg tdk bisa jdi Jaminan kebahagiaan.sya prempuan yg tdk setuju dgn mahar yg tinggi krna melihat pendidikannyalah,keturunannya dsb.

    BalasHapus
  17. Lain dulu sekarang! Menurut saya tradisi uang panai bugis mks hanya sebagian saja yang mengetahui dan dizaman skrg ktika bertanya tentang uang panai mungkin hanya 5% suku bugis mks yang tau tentang hal itu.
    Rasulullah saw bersabda, Wanita itu dikawini karena empat hal: pertama karena kecantikannya,  kedua karena  hartanya, ketiga karena nasabnya dan keempat karena agamanya, maka pilihlah karena agamanya, hidupmu akan bahagia”  (HR Bukhari dan Muslim)
    Kriteria lain iyalah:
    Mudah maharnya.
    Mudah kitabnya.
    Mudah rahimmnya.
    Lebih detailnya disini https://ngelmulepakbumi.wordpress.com/tag/ayat-dan-hadits-tentang-mahar/

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bagaimana dengan pendidikannya?

      Hapus
  18. Lagi...lagi jika menyangkut adab dan adat suatu kelompok masyarakat tertentu..maka harus dibuktikan dengan bukti sejarah.
    Namun, jika cerita tersebut diatas hanyalah sebuah cerita turun temurun dalam satu keluarga saja..maka sah-sah saja membuat cerita seperti itu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalau mau lihat buktinya coba cobami melamar suku bugis atau beranilah keluar dari daerahmu pergi ke sarangnya suku bugis dan buktikan.

      Hapus
  19. saya setujui wansa DM
    Nabi SAW bersabda, " wanita paling mulia diantara umatku adalah wanita yang memiliki kecantikan prima dan mahar paling minim"
    "janganlah menetapkan mahar-mahar yang mahal, karena uang dan kekayaan tidak dapat menyebabkan cinta. Allah lah yang menetapkan cinta"

    BalasHapus
    Balasan
    1. sjujurnya aku ini orng bugis . aku sangat setuju sekali dengan anda bahwa wanita paling mulia diantara umatku adalah wanita yg memiliki kecantikan dan mahar paling minin tetapi kenyataanya didaerah saya kok masih susah berubah itu adatnya begitu mahal uang panai atau doi menrena
      seharusnya sdh berubahmi sekarang tradisi itu krn skrang jaman modern dan pendidikan. Okey

      Hapus
  20. Maknai ki dulu KATA-KATA nya.. bukannya di ukur pakai uang. Tapi supaya itu Suaminya itu tidak mudah untuk Mengucapkan CERAI. karena dilihat juga kesungguhannya sebagai Laki-laki toh itu juga untuk kehidupannya ji...Kalau dia serius berarti dia bisa berjuang toh...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bagi mereka yang memakai uang orang tuanya yang kaya raya, di mana letak kesungguhan dan keseriusannya? Di mana letak perjuangannya? Adakah persyaratan bahwa uang yang dipakai harus dari hasil keringat sendiri?

      Hapus
    2. klu pikiran anda begitu.. bisa juga saya berpikiran.. apakah org kaya rela buang2 uang?? org kaya itu juga pelit.. pasti dia berpikir keluarkan uang byk2 klu mau di buang2 sj

      Hapus
  21. Iyami anne nikana carita ni paccaritai..semua itu demi satu hal : GENGSI.

    BalasHapus
  22. Rugi. Lagi-lagi rugi.
    Seakan-akan memang kita (pr) seperti barang.
    Ukur pertimbangan cerai dari banyaknya kerugian.
    Saya perempuan tapi bukan berarti saya merasa aman setelah tau suami mau menceraikan tapi tidak jadi karena uang. Bukan juga saya minta (naudzubillah). Tapi rasa-rasanya kok kayak terpaksa?!
    Ini juga salah satu hal yang bisa menyebabkan laki-laki yang sudah berhamburan harta jadi gampang tambah istri. Kan ada j tawwa uangnya. Cobami lihat saudagar-saudagar kaya di kampung-kampung. (termasuk kakekku)
    Hahhahhah...
    Jadi ingat juga sabda Rasulullah SAW. kalau perempuan yang baik itu adalah yang ringan maharnya. Ringan disini juga bukan berarti ringan yang cenderung tidak menghargai wanita dan keluarganya tapi sesuai kesanggupan dan kewajaran.

    Salam,
    Perempuan Bugis yang kebingungan

    BalasHapus
    Balasan
    1. bukan uangx cewe tp perjuanganx untuk mendapatkan itu... cerna kata2 nya

      Hapus
  23. berarti makna mahar yg dulu telah berubah ???
    mahar yg dlu maknax sbg bentuk penghargaan bwt perempuan skrg menjadi alat gensi"an ???
    ini mngkn tanda bahwa nilai" budaya kurang diajarkan kpd generasi muda....

    BalasHapus
  24. Lalu bagaimana jika sang istri yg justru meminta cerai dari si suami? Apakah ada jaminan dengan mahar yg mahal, istri akan setia pada suami? Itu yg perlu dikaji juga,

    BalasHapus
  25. Say pikir juga ini hanya sebuah gengsi aja.... lagian kita blm bisa mengukur cinta dari usaha seorang laki2 mencari mahar yang tinggi utuk pujaan hati.... kita bisa mengukurnya setelah mereka menjalanix.... karena sesungguhx setelah menikah itu nggak ada lagi cinta akan tetapi rasa saling memiliki dan tanggung jawab.... mahar yang besar merupakan kesalahan dalam mengukur keseriusan seorang laki2....

    BalasHapus
  26. setahu saya tingginya mahar gadis bugis makassar tidak ada relevansi dengan penjajah seperti cerita diatas.

    BalasHapus
  27. Setuju sekali dengan yg mbak nur bilang

    BalasHapus
  28. Kalau yang saya pahami dari cerita2 orangtua dulu, panai' awalnya merupakan cara halus untuk menolak seseorang yg hendak melamar anak gadis keluarga yg bersangkutan. Apalagi klo anak gadis tersebut sudah memiliki tunangan atau dijodohkan dgn lelaki lain. Penolakan secara halus itu tidak lain untuk menghindari perasaan tersinggung si pria yg hendak melamar maupun ketakutan akan karma yg sebagian besar dipercayai oleh masyarakat bugis, jika menolak dgn cara yang tidak baik anak gadis tersebut akan sulit atau tidak bertemu dgn jodohnya. Memang benar, dengan panai' yang sudah ditetapkan menjadi tolak ukur bagi keluarga untuk menilai kesungguhan pria tadi. Namun, adapun pria itu pada akhirnya menghargai perempuan serta pernikahan mereka pada akhirnya akan kembali pada pribadi masing-masing. Adapula yang merasa sebab telah banyak melakukan pengorbanan untuk menikahi perempuan tersebut, ia malah semena-mena. Tentunya ini tidak diharapkan dan menjadi pelajaran berharga baik untuk pihak perempuan dan laki-laki agar saling menghargai dan menghormati sebagai pasangan. Tetapi kembali lagi pada agama dan kepercayaan kita sebagai umat beragama, dalam islam mahar yang baik adalah mahar yang memudahkan. Dan dalam memenuhi mahar tersebut, hendaknya pria melakukan dengan penuh kerelaan (Q.S. Annisa : 4)

    BalasHapus
  29. Mahalnya uang panaik manurut saya hanya sebuah gengsi, karena terkadang kalau kedua belah fihak sdh saling suka dan takut tdk jadi nikah gara2 pihak laki2 tdk sanggup menyediakan uang panaik malah pihak perempuan yg membantu mencukupi sembunyi2...karena tujuannya hanya untuk dipamer bahwa si wanita diberikan uang panaik yg banyak....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe... pengalaman ya

      Hapus
  30. Kalau uang panai nya mahal dan perempuNnya berkualitas (masih........., baik dll) itu sy sepakat... tp klw mahal tommi panaiknya baru ujung2nya "mengecewakan".. maaf yh tdk bermaksud menyinggung, mari salibg menjaga diri

    BalasHapus
    Balasan
    1. Deritamu... hahaha

      Hapus
    2. @dudi sketsa, maaf bukannya bermaksud untuk apa. Sekedar berpendapat. Tapi seperti yang ada blg 'kalau mahal tommi panaiknya baru ujung-ujungnya mengecewakan' maksudnya anda ingin perempuan yang setimpal dgn harga panaik itu? Iya kan? Apa anda punya kekasih? Mengecewakan, tidak? Kalau iya ya cari yang lain. Kalau tidak, ya panaiknya yang mahal dgn kekasih yang dicintai itu tidak akan menjadi masalah saya pikir. Worth it lah :))

      Hapus
  31. orang2 yg mau bayar mahal krna mreka orang tingi gengsinya... mau dikatakan kaya ma mertua atau kluarga ceweknya... dan kpd masyarakat...

    BalasHapus
  32. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  33. Pa enteng'i siri'nu
    Itu sdah menjadi darah daging keturunan BUGIS - MAKASSAR
    klo memank keturunan bugis ki..tdak jadi masalah itu uang pannai...

    BalasHapus
  34. menurut saya maksud dari mahal nya mahar ini adalah bukan cuman semata mata menyebutkan jumlah. tetapi maksud mahar ini adalah bahwa apa yg kita dapat dgn susah payah biasanya akan lebih kita hargai daripada yg kita dapat dgn mudah.

    BalasHapus
  35. Kebenaran atau tidaknya cerita di atas tersebut bukan masalah. Cerita tersebut hanya ingin memberikan citra pemikiran positif dari mahar bugis-makassar yang tinggi. Dari cerita tersebut dapat diambil hikmahnya yaitu, berjuanglah untuk wanita yang kalian sayangi. Wasalam.

    BalasHapus
    Balasan
    1. "berjuanglah untuk wanita yang kalian sayangi." Nah, ini nih. Setuju banget.

      Hapus
  36. Dalam agama Islam mahar atau mas kawin (dlm bhs Makassar disebut SUNRANG), yaitu sesuatu yang diberikan seorang suami kepada istrinya. Memberi mahar ini hukumnya wajib. Berdasarkan firman Allah subhanahu wata’ala: Berikanlah maskawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan. (QS an-Nisa’: 4).
    Jd suku apapun n dmanapun berada jika dia islam n akan menikah maka laki2 tsb wajib memberikan mahar n jenis juga besaran mahar klo tdk salah dtulis didalm buku nikah. Mengenai jumlah uang panaik, (sy lebih senang menyebutnya uang belanja krn mmg uang tsb dgunakan alias dbelanjakan tuk keperluan pernikahan tsb) itu adalah merupakan hasil kesepakatan keluarga kdua belah pihak pada saat prosesi annappuki n ini tdk dicantumkan dlm buku nikah atwpun diucapkan pada saat ijab kabul. Jadi tolong bedakan antara mahar dengan uang panaik...

    BalasHapus
  37. nikah dengan syarat mahar yg tinggi bakal buat org yg keuangannya biasa2 saja bakal stres. nyari pinjaman kemana mana. yg ada hbs nikah bukannya bahagia malah pusing mkir hutang. kan ksian..

    emang bagus sih makna uang panai buat menghargai derajat wanita. tapi alangkah baiknya uang panai disesuaikan jg dengan kemampuan sang pria.

    BalasHapus
  38. Beda mahar sama uang panai..mahar itu harta pertama istri yg mnjdi haknya.smntara uang panai itu terpisah biasany itu yg dipakai utk acara resepsi.smkn bsr uang panai smkin meriah acarany...

    BalasHapus
  39. Bagi saya yg sdh brtahun2 berteman dg org bgis-makassar,,,,kenyataanx beda,,,,banyak jg para suami yg slingkuh,,,ato malah istrix sndiri,,,,ato seorg istri pi suruh krja suamix,,,plg hrus bawa uang yg ditargetkn sang istri,,,ato ada suami takut pada istrix karna sdh kemekah dan dipggil hj. Sdgkn suami blm,,,,,,,walaupun kreteria diatas cuma sebagian kcil sj

    BalasHapus
  40. tapi pada saman ini banyak wanita yang hamil di luar nikah kan itu namanya juga dijual murah harga dirinya rata'' cewek jaman sekarang banyak yang begitu..

    BalasHapus
  41. Kalo bugis makassar mmg punya bbrp ritual perkawinan, nah ritual2 inilah yg mnjadi pnyebab tinggix uang panai', blm lagi acara resepsi yg mewah, yg menandakan strata sosial keluarga perempuan. So, walimahan mmg dianjurkan, asalkan tdk memberatkan pihak laki2. Just my opinion

    BalasHapus
  42. Ada juga "..org2 Bugis Makassar..berfikiran", KLu sanggup memenuhi mahar yang diusulkan org tua pihak wanita,maka sang calon dpt maju meminang,tapi kLu tdk..,yaa hrz mundur teratur.kasian kan kLu tu pasangan saling cinta,,tapi trhalang keputusan org tua. Kaya kisah tuh yang pernah nongol dimedia sosial...,"masi inget kan?"...Lagi acara resepsi disamperin sama sang mantan pacar..,,jadi nikah itu bukan u/ smata2 sunnah juga..kadang tdk dipungkiri.."Ada yang namanya GENGSI"...

    BalasHapus
  43. Mahar Bugis? cukup 300 juta, kau bisa menikahi orang bugis sesuai pilihanmu... menurut anda itu mahal atau murah? selama cinta bisa dibeli dengan uang, ITU TANDANYA MURAH...

    BalasHapus
  44. Inti dari tingginya mahar di bugis itu adalah GENGSI dari org tua si gadis, adat dibugis itu adalah jodoh dapat dibeli dengan UANG,, walaupun si gadis blum mau menikah tapi jika ada lelaki kaya yang melamar pasti diterima sama si org tua gadis dan si gadis mau tidak mau harus menuruti kemauan org tua, dan ini sama saja dengan menjual ANAK

    BalasHapus
  45. Saya pernah mengobrol dengan salah seorang yang termasuk di hormati dan di jadikan orang tua bagi kalangan tertentu.singkat kata beliau mengatakn bahwa beliau tidak begitu setuju dengan "uang panai".karena itu di anggap memberatkan pihak lelaki.bagi pihak lelaki uang kebetulan dari kalangan orang cukup berada.mungkin ga ada masalah bagi mereka.tapi coba pikir bagi kalangan yang kurang mampu.apakah mereka harus menunggu menikah di usia 35 atau 40 tahun.karena harus mengumpulkan uang panai.jadi sebenarnya uang panai itu adalah "maaf" mungkin bisa di bilang"tradisi yang memberatkan"
    Terima kasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tolong tanyakan balik kepada orang tua itu mas darwis, bilang apakah dia setuju anaknya dilamar tanpa Uang panai..??

      Hapus
    2. Uang panai tetap ada, tapi kan disesuaikan dengan kemampuan, bukan hanya karena mengejar gengsi terpaksa harus berutang kiri kanan...

      Hapus
  46. Setau sya...uang panai itu ada biaya pestanya cewek yang di tanggung laki2, makanya biasanya ada juga berupa beras dan sebagainya....dan itu tergantung keluarganya lagi mau tinggi atau rendah, tapi saya pernah dapat sepupu sengaja di kasih tinggi agar laki2 tidak sanggup, dan mundur, karena karena harus ada persetujuan dari anak perempuan apakah mau dinikahkan dgn yang datang melamar atau tidak, klw milih tidak, makanya dikasi tinggi panainya.

    BalasHapus
  47. Hpuskan adat seperti itu,,, kita punya agama, jdi pakai aturan agama,lebih baik uang sperti itu, di sumbangkan bgi saudar2 kita yg kurang mampu, yg bermanfaat

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener bgt.. adat setan itu.. islam tdk mngajarkan begtu. Nikah itu mudah adat istiadat n gengsi org tua yg bkin susah

      Hapus
    2. Bener bgt.. adat setan itu.. islam tdk mngajarkan begtu. Nikah itu mudah adat istiadat n gengsi org tua yg bkin susah

      Hapus
  48. Guru SMA sy prnah cerita mengenai mahar, ketika slah seorang kluarganya dilamr, dia lah yg dipercayakan untuk brbicara dngan pihak pelamar, saat ditanyakan mngenai berpa rupiah maharnya.. Guruku menjawab terserah anda sj klo sedikit ya pestanya bgtu2 sja, klo bnyak ya pestanya bisa agak meriah... Pandangan sy, uang mahar atau panai itu digunakan oleh pihak wanita untuk biaya prnikahannya dan jujur orng bugis itu gengsinya tinggi jdi apabila wanita yg dilamar adlah dri kluarga yg trpandang dan berpndidikan,, siap2lah merogokk kocekk dlam2.. Kualitas dan harga pastilah sebanding

    Sy orng bugis

    BalasHapus
  49. Intinya, jika kebiasaan ini mau dihentikan maka hal ini tidak bisa ditawarkan ke generasi tahun 40an-80an. Tawarkanlah kepada mereka yang berasal dari generasi tahun 2000an. Dengan cara demikian, maka generasi bermental mahar yang mahal akan terpotong. Sebab, memotong generasi seperti ini juga sama pentingnya dengan ber"jihad" salam dari timur...

    BalasHapus
  50. assalamualaikum..
    min, dalam konteks di atas ada translete dalam bahasa makassarnya, tolong di share dong min hehe
    makasih
    wassalam

    BalasHapus
    Balasan
    1. SAYA SEKELUARGA INGIN MENGUCAPKAN BANYAK TERIMAH KASIH KEPADA AKI NAWE BERKAT BANTUANNNYA SEMUA HUTANG HUTANG SAYA SUDAH PADA LUNAS SEMUA BAHKAN SEKARAN SAYA SUDAH BISA BUKA TOKO SENDIRI,ITU SEMUA ATAS BANTUAN AKI YG TELAH MEMBERIKAN ANKA JITUNYA KEPADA SAYA DAN ALHAMDULILLAH ITU BENER2 TERBUKTI TEMBUS..BAGI ANDA YG INGIN SEPERTI SAYA DAN YANG SANGAT MEMERLUKAN ANGKA RITUAL 2D 3D 4D YANG DIJAMIN 100% TEMBUS SILAHKAN HUBUNGI AKI NAWE DI 085-218-379-259 ATAU KLIK SITUS DANA GAIB

      Hapus
  51. mahar sama uang panai itu beda
    mahar biasanya hanya beberapa gram emas di tambah perlengkapan sholat sedangkan uang panai ada uang yang akan di habiskan atau di pakai belanja untuk keperluan pesta seperti terowongan atau sarapo,hiburan seperti electon dll

    BalasHapus
  52. Nikah itu mudah, bukankh Nabi sudah bilang sebaik2 wanita adlh yg plg sedikit maharx

    BalasHapus
  53. Saya org makassar, sangat tidak setuju istilah begitu.. kita hidup punya aturan agama bukan aturan adat istiadat

    BalasHapus