Senta Produksi Kain Sutra Wajo Sovenir Makassar

Senta Produksi Kain Sutra Wajo Sovenir Makassar Bagi suku Bugis, tepatnya di Kabupaten Wajo dan Soppeng, Sulawesi Selatan, menenun sutra bukan semata pencaharian, melainkan juga cara mereka berkomunikasi dengan para leluhur. Memastikan warisan tersebut tetap lestari dari generasi ke generasi.


Senta Produksi Kain Sutra Wajo Sovenir Makassar


Senta Produksi Kain Sutra Wajo Sovenir Makassar

Dengan baju bodo dan sarung yang berbahan dasar sutera, Sulawesi menjadi penghasil tenun sutra terbesar di Indonesia. Bukan hanya kainnya yang dikenakan untuk busana keseharian, pesta pernikahan, atau pesta adat saja, bahkan busana bagi kaum muslim baik laki-laki maupun perempuan yang berbahan dasar sutera, saat ini menjadi trend, pengelolaan secara tradisional oleh masyarakat setempat, membuat kain sutra memiliki keistimewaan tersendiri. Harganya pun berfariasi, tergantung dari pewarnaan dan bahannya.

Satu hal yang membedakan tenun sutra dengan tenun lainnya seperti tenun ikat flores atau tenun songket Sumatera. Benang tenun sutra Sulawesi menggunakan benang ulat sutra hasil perkawinan silang ulat sutra China dan ulat sutra Jepang. Dengan perkawinan silang ini, tenun sutra Sulawesi memiliki pesonanya sendiri, halus dan tahan lama.

"Selain benangnya yang dihasilkan dari ulat sutra, para penenun masih mempertahankan proses pewarnaan tradisional dengan bahan-bahan pewarna tenun dari alam." Kata Wirfa, salah satu staf kehutanan dan pertanian yang menangani persuteraan di kabupaten Soppeng.

Alasan mereka mempertahankan pewarnaan dari bahan alami jauh dari slogan mentereng yang sering dikemukakan kaum urban tentang pelestarian lingkungan. Masyarakat Kampung Sabbangparu, Kabupaten Wajo misalnya, melakukannya karena itulah yang diajarkan leluhur mereka. Masalah pewarnaan alam yang ramah lingkungan itu adalah warisan kebijaksanaan leluhur yang hidup berdampingan dengan alam, karenanya mereka senantiasa membuat tenun ikat dengan segenap hati dan rasa cinta pada alam semesta.

Keistimewaan kain sutra adalah proses pembuatannya. Dari menunggu ulat membuat kokon (rumah larva), kemudian pemintalan benang, pewarnaan hingga tenun, dibutuhkan sedikitnya memakan waktu selama 3 bulan. Ulat Sutra baru mampu membuat kokon setelah berusia 20 hari dan kokon baru dapat di panen setelah berusia 8 hari.

Ulat Sutra Sulawesi banyak dihasilkan di kota Soppeng. Dari kota inilah tenun sutra berasal. Namun, pengrajin kainnya diwarisi oleh warga bugis di Sengkang, Kabupaten Wajo.

Satu kain sarung dikerjalan selama 1-2 minggu tergantung motif kain. Berbeda dengan tenun sutra industri, pengusaha tenun di Sengkang mampu menghasilkan produksi 2-3 juta meter per tahunnya.

Kain tenun sutra Sulawesi tidak hanya dipakai orang Bugis. Masyarakat Indonesia dari kepulauan lain maupun turis mancanegara banyak meminati kain ulat sutra ini. Selain bahannya yang lembut, warna-warni kain sutra yang menjadi ciri khas Sulawesi ini memiliki daya tarik tersendiri. Meski jumlah ekspor Sutera ke luar negeri seperti Jepang, China, dan Malaysia, belum terlalu besar, namun peminat khusus sutera di dari berbagai negara cukup banyak. ini terbukti dengan minta turis mancanegara yang datang berkunjung ke Sulawesi, selalu mencari kain sutera.

Selain itu, batik mislanya, beberapa perancangan ternama juga mulai menawarkan design nyentrik dengan memadupadankan batik dengan kain tenun sutra alami. Batik Solo, Batik Sampang Madura yang terkenal dengan warna-warninya juga mulai menggunakan bahan utama sutra.

Hanya saja, mengingat batik sebagai busana telah menjadi bagian dari mode yang memiliki siklus popularitas, menjadi tantangan bagi perancang menghasilkan juga desain baru busana dari batik untuk mengimbangi terus berkembangnya ragam hias batik-sutra. (Yusuf Ahmad) Sumber fotokita.net Dari ulat Hinggah Menjadi Kain
Rating Artikel : 5 Jumlah Voting : 99 Orang

Suka dengan artikel di atas? nggak ada salahnya untuk berlangganan artikel terbaru dari blog ini langsung via email:

0 Response to "Senta Produksi Kain Sutra Wajo Sovenir Makassar"

Posting Komentar