Buka Puasa bersama Bandag Lame Kayu

Buka Puasa bersama Bandag Lame Kayu diatas kain sajadah merah itu kami duduk berhadapan, menghadapi sajian khas Bugis. Ada Kaledde (Nasi Tim Ketan) juga Bandang Lame (Panganan dari ketela berbungkus daun), tak ketinggal Es Trop (Es serut dengan Syrup DHT). Kaledde adalah makanan kesukaanku, dimakan dengan lauk kelapa muda parut yang telah disampuri garam serta sambel pedas melahirkan cita rasa sendiri. Nikmat tiada banding. Sayang, keasikanku kali ini terganggu dengan sambel yang super pedas dan terbangunlah aku dari mimpi indah itu.

Siang hari di puasa hari ke-14, mimpi itu kualami. Saat terjaga ada bentangan benua Eropa tercetak dibantalku. Huff memalukan, ngiler karena mimpi. Kepalang tanggung, setelah cuci muka segera kukebut motor Pitung (Honda 70-an)-ku menuju pasar desa. Dipasar pertama hingga pasar ketiga tak kujumpai barang yang hendak kubeli. Pilihan terkahirku adalah pasar Giwangan, pasar sayur dan buah terbesar di Yogyakarta. Dipasar ini kudapati sepelipatan daun pisang seharga 1000 rupiah, sebutir kelapa muda parut seharga 3000 ribu rupiah, juga setengah kilo gula merah seharga 1500 rupiah. Singkong yang kuharapkan ternyata tidak ada dipasar ini. Solusi terakhir adalah pasar Telo, sekitar 2 Kilometer arah barat daya pasar Giwangan. Lagi-lagi kukecewa, dipasar yang khusus menjual segala jenis ketela ini tak kudapati Singkong kuning, yang ada hanya singkong Putih. Daripada kecewa total, singkong putih tak apalah. Maka kubelilah sekilo singkong putih seharga 2500 rupiah, kupilih yang masih muda dan kecil-kecil, agar gampang diparut dan hasilnyapun bakal lebih enak dan kenyal.

Waktu menunjukkan pukul 15.00, ini berarti dalam dua jam makanan ini harus jadi. Ya, sore ini kuingin menikmati bandang lame sebagai sajian buka puasaku. Jika mau jalan pintas, makanan yang dalam bahasa Jawa ini disebut lemet ini bisa kudapati Pujasera-pujasera yang ada dikota Yogyakarta, pasti banyak yang menjual apalagi dibulan puasa seperti ini. Pilihannya pun variatif, ada rasa coklat, mocca, strawberry hingga nenas. Tapi kali ini tidak, aku ingin yang alami, klasik dan buatan sendiri.

Setiba dirumah, dapur tujuan utamaku. Dibantu jagoan kecilku, singkong itu kukupas dan kuparut sendiri. Walkasil lenganku pegal-pegal semua, maklum dah bertahun-tahun tak mengerjakannya lagi. Selesai, parutan singkong itu kucampur dengan kelapa parut juga dengan gula merah yang telah diiris tipis sebelumnya. Kupasatikan bandang lame yang kubikin ini tidak akan manis semanis buatan mendiang Ibuku dikampung. Penyebabnya, gula merah di pulau Jawa sangat berbeda dengan gula merah di kampungku, Sulawesi Selatan. Gula aren begitu orang Jawa menyebutnya, warna pucat cenderung coklat muda, berbeda dengan gula merah ala Sul-Sel dengan warna merah pekatnya, dan rasa manis yang luar biasa pula. Lagi-lagi kutawarkan permaafan untuk diriku sendiri, dari pada tidak sama sekali, mending pake gula seadanya, yang penting ngidam-­ku terlunasi.

Setelah adonan ini tercampur jadi satu, sedikit demi sedikit adonan selanjutnya dibungkus dengan daun pisang. Hasilnya, 15 bungkus bandang lame kini kumasukkan panci kukusan. Selesai!, saatnya membaca Novel Sejarah Gadis Portugis,sambil menunggu waktu buka puasa. Baru tiga halaman kubaca, dari dapur ada teriakan “Ayah!!!, gasnya habis”. Haaa, ternyata belum selesai juga perjuanganku hari ini. Segera kuberanjak ke warung diseberang rumah. “Waduh, habise mas. Coba ke warung sebelah” ujar pemilik warung. Ternyata di warung itu, persiadaan gas ukuran 3 kilonya juga sudah habis. Maka pilihan terakhir, adalah ke POM Bensin terdekat. Sial, jangan ukuran 3 kilo-an yang 12 Kilo-pun juga sudah habis. Begitu juga di dua pasa toko swalayan dikampung sebelah, semua persediaanya juga habis.

Tak mau kalah menyerah, segera kupacu motorku ke desa sebelah. Berharap ada warung yang masih menyediakan si hijau itu. Akhirnya di warung ke-8 kudapati juga, dengan semangat 45 kugeber gas motorku dengan tangan kiri menjinjing tabung tersebut. Waktu berbuka tersisa 45 menit lagi. Tiba dirumah, set set set selang kupasang dan cesss, air dalam panci itu kembali bergolak mendidih. 20 menit berikutnya, bandang lameku sudah matang. Sugera kusajikan diatas meja. Tak peduli masih panas, Rafi sudah mencuilinya dengan garpu dan hup, sepotong bandang lame masuk mulutnya. Bisa dipastikan, ia akan berteriak kepanasan. Hiburan gratis menjelang buka puasa.

Selamat berbuka, selamat mencoba resep tradisionalku. sumber :suryadinlaoddang.blogdetik.com

Suka dengan artikel di atas? nggak ada salahnya untuk berlangganan artikel terbaru dari blog ini langsung via email:

0 Response to "Buka Puasa bersama Bandag Lame Kayu"

Posting Komentar